Email this sample to a friend


Sweet and Dangerous


Aku berlari menerobos Kegelapan,peluh menetes deras di sekujur tubuhku.Aku berada di tengah-tengah hutan yang sama sekali tidak aku kenal.Dan sialnya aku dikejar oleh seseorang atau sesuatu.Aku yakin dia bukan manusia.Kecepatannya melebihi batas normal dan dia mampu melompat dari pohon tinggi ke pohon lainnya.Sosok itu berhasil mendorongku hingga jatuh ke tanah,kuku-kukunya yang tajam menancap keras ke bahuku.Aku berteriak kesakitan,bau anyir menyeruak ke hidungku.Sungguh aku mual pada darahku sendiri tapi berbeda denganku sosok itu menyeringai menjilat tangannya yang berlumuran darahku.Ketika bulan satu-satunya cahaya yang ada di hutan ini menyinari sosoknya.Aku menatap ngeri,wajahnya putih pucat otot-otot bewarna biru bertonjolan di sekujur tubuhnya.Matanya hitam penuh seakan hanya lubang menganga di wajahnya.Monster itu menampakkan taring-taringnya yang bewarna kuning menjijikkan dan mengarahkannya tepat ke leherku.Tuhan apakah ini akhir hidupku..tubuhnya terlalu kuat,aku memberontak tetapi tidak ada gunanya.Aku menutup kedua mataku.

“Grawwwrrr….Bruakk.”Aku mendengar suara benda berdebam keras.Kubuka kedua mataku.Aku melihat monster itu ambruk menimpa pohon.Sesosok punnggung manusia berdiri di depanku.Monster itu bangun dan berlari kencang ke arahnya.

“Awas!!”Aku berteriak ketakutan.Tetapi sosok itu seketika melompat dengan lincah.Posisinya membelakangi lawan sebelum monster itu menyadari kehadirannya.Tangannya memeluntir leher monster itu hingga putus.Aku menjerit ngeri melihat tubuh monster tanpa kepalanya lagi memuncratkan darah merah kehitaman sebelum akhirnya jatuh ke atas tanah.Laki-laki(aku tahu jenis kelamin dari postur tubuhnya)itu membersihkan kedua tangannya ke atas jubah hitam yang melekat di tubuhnya.Sinar bulan jatuh menyorot tubuhnya.Tetapi yang bisa kulihat hanya kedua matanya yang bewarna merah.Dia bersiap pergi.

“Tunggu..siapa namamu?”Tanyaku spontan.Tetapi dia tidak menjawab..Zrrrat tiba-tiba sepasang sayap hitam keluar dari tubuhnya.Aku terbelalak takjub.

Previous Page Next Page Page 1 of 14